
Pilihlah..!
25 tahun sudah terlewati, sebuah waktu yang berjalan melaju tanpa disadari Saya melewatinya dengan kekerasan pikiran. Sakit begitu dalam akibat mendikte diri untuk menjadi orang sukses dan menang. Namun, apa daya 25 tahun Saya melewati sang waktu belum menjadi apa-apa. Tak ubahnya pecundang yang berjalan di lorong-lorong kegelisahan. Ahh..
“Tara, kamu masih saja menulis?” Inilah sosok Ibu yang slalu bertanya jika Saya menulis.
“Iya Bu. Saya akan tidur.”
“Bener itu, kamu harus tidur. Besok kamu akan dilamar orang. Kalau keluarga besarnya melihat kamu pucat, hanya karena tidak tidur. Bisa-bisa kamu di tolak jadi istri seorang ilmuwan itu. Tidur ya! Dan do’a sebelum tidur, matiin lampunya.”
Saya membalas dengan seulas senyuman, pahit. Entah mengapa mendengar lamaran besok, Saya lebih pucat. Ibu saya itu, terobsesi dengan orang-orang berilmu. Kesan pintar, cerdas dan wibawa. “Apalagi orang berilmu itu, mudah dapat pekerjaan dan malahan pekerjaan yang nyari-nyari dia.” Lihatlah kata-kata ini, obsesi orang berilmu sebenarnya terselebung makna. Lebih tepatnya Ibu menginginkan Saya menikah dengan orang yang sudah bekerja, ujung-ujungnya adalah duit.
“Ck..ck..ck.. ahh lebih baik saya tidur. Ya, Rabb.. izinkan saya agar bias menghadapi hari esok.”
@@@
“MasyaAllah, cantiknya yaa calon mantu bapak ini. Bagaimana bu? Pilihan Reza dan bapak ini?”
“Iya, cantik pak. Bapak dan Reza memang pintar kalau menilai kecantikan lho Tara.”
Ibu saya tersenyum, manggut-manggut. Saya, malah muak. Saya tidak suka dengan basa-basi. Sedangkan Reza, hmm.. Dia hanya melihat Saya, kalau Saya menoleh menatapnya, dia menunduk dan kalau dia melihat Saya justru Saya jadi salah tingkah. Saya rasa inilah tahap awal cinta. Mungkin, Dia mencintai Saya bisa jadi Saya yang lebih mencintainya. Dia laki-laki tampan. Yang membuat Saya senang Dia berjenggot. Cinta memang aneh.
“Tara, apa aktifitasnya sekarang ini.. Kata bapak dan Reza kamu Penulis ya?”
Degh.. MasyaAllah, Saya baru tahu kalau Saya ini Penulis. Ya! Penulis yang gagal, gagal karena tulisan yang Saya buat tak bernilai apa-apa, tak menghasilkan apa-apa. Dan saya tahu pertanyaan ini meronakan pipi saya yang malu karena tak tahu harus menjawab apa.
“Tara, koq diem? Ibunya Reza nanya itu ke kamu.” Ibu saya bingung melihat reaksi Saya yang diam.
“ahaa.. Ibu ini, Tara kan sedang di lamar.. jadi maklum saja dia diam. Berdasar hadis Rasullullah SAW, kalau anak perawan dilamar dia diam, itu tandanya lamaran kita diterima Ibu..”
Ibu reza tersenyum, Ibu saya juga dan Reza tersenyum kearah Saya. Aiiih.. saya kebingungan. Bapak Reza ini, menurut Saya selain berwibawa dia lebih suka gerak cepat, langsung ketujuan dan dengan sikap beliau itu Saya selamat untuk tidak menjawab pertanyaan Ibu Reza dengan jawaban “ Saya bukan Penulis. Tapi, Pecundang! Kurang lebih begitu Bu.”
@@@
Sebulan sudah, Saya hidup berumahtangga dengan Reza. Reza Radhiawan Kusuma dan Saya Angranatara Putri. Kehidupan Saya dengan Reza sungguh penuh cinta, tak ada masalah yang besar. Masalah hanya pada Saya yang belum begitu enak dalam memasak. Reza slalu bilang “Sayang, kamu pasti bias memasak, ana yakin itu. Ini buku memasak, ana beli dari Bandung. Sayang bias pelajari dan semoga sukses.” Di beri senyum khasnya. Khas, reza setiap tersenyum slalu mengedipkan mata sebelah kanannya. Tapi, untungnya senyum khas begitu hanya untuk Saya.
Saya pun menyadari, setelah menikah ini banyak kesuksesan yang Saya alami. Ibu mertua Saya slalu menyemangati Saya untuk menulis. Ibu mertua tahu kalau Saya begitu buruk dalam berkarya, berkarya tulis. Reza pun memberikan Saya beraneka ragam buku-buku yang berkaitan dengan cara menulis, cara mengarang yang baik. Saya pun menyadari Ibu Saya terus berdoa agar Saya bias menjadi seorang Penulis yang bermanfaat serta baik. Pernikahan yang diawali diam ini menghasilkan tawa pada cara berpikir Saya. Dan Saya mulai mengerti bahwa kematiaan ayah Saya, bukanlah penghalang untuk berkarya.
Ayah Saya seorang Penulis. Tapi, dia terlalu keras bahasanya, kritikannya juga. Dia mati karena tulisan-tulisannya. Inilah yang buat Saya merasa menjadi Penulis yang pecundang karena tak sehebat Ayah, takut mati hanya sebuah bakat alami yakni menulis.
Hidup akan terus berjalan, jika hanya menengok ke ruang traumatik, Saya mengerti; Saya akan menjadi pecundang sampai mata ini tertutup kaku.
Sebelum tidur Saya menulis dan menyatakan kebahagiaan setelah menikah. Menikah dengan orang cerdas yang tak keblinger. Keblinger akan kemampuan dirinya dan Ia pun tidak keblinger dalam kecerdasan Spritualnya sehingga suami Saya menuntun Saya berjalan untuk menjadi seorang pemenang dalam berkarya tulis. Reza laki-laki yang rendah hati. Tidak merasa sombong dengan ketinggian ilmunya dan tidak merasa paling benar meskipun dia luar biasa dalam pemahaman beragamanya. Alhamdulillah, Saya sembuh dari penyakit jiwa yang slalu merasa menjadi pecundang.
Setiap pilihan adalah jalan
Jalan menuju kemenangan atau keterpurukan
Pilihlah setiap lini dan nafas kehidupan
Dengan ikhtiar yang benar agar tidak menjadi
Orang-orang yang gagal
- Reza tersenyum pada Saya dengan senyum khasnya
Semoga bermanfaat.
al-Faqirilallah, Novelia Yusuf asy-Syahidah
Padang, Kos Dewi Fortuna. Sabtu 04 Februari 2012, 10:09 AM.